Text
Perbedaan Larutan Fermentasi Singkong Gula Aren, Dan Air Kelapa Sebagai Atraktan Perindukan Nyamuk Aedes aegypti Melalui Media Larvitrap Tahun 2019
Nyamuk Aedes merupakan vektor penularan demam berdarah dengue. Sampai saat ini belum ada cara yang efektif untuk mengatasi penyakit DBD karena belum ditemukan obat anti virus dengue. Penanggulangan penyakit DBD ditekankan pada upaya reduksi kepadatan populasi nyamuk Aedes aegypti. Mosquitotrap adalah salah satu alat perangkap nyamuk dengan menggunakan media atraktan yang mengandungan senyawa CO2, asam laktat, Etanol, ammonia dan asam lemak yang merupakan salah satu senyawa yang dapat menarik nyamuk. Atraktan yang digunakan adalah larutan fermentasi singkong, gula aren, air kelapa dan aquades (kontrol). Penelitian ini bertujuan untuk melihat efektifitas atraktan dari bahan fermentasi singkong, gula aren, air kelapa, aquades (kontrol) terhadap jumlah larva nyamuk aedes yang terperangkap.
Metode Penelitian Quasi Experiment dengan rancangan post test only control group design untuk mengetahui dan membandingkan jumlah larva nyamuk yang terperangkap pada atraktan larutan fermentasi singkong, gula aren dan air kelapa dengan kosentrasi 10% dengan pemasangan larvitrap selama 7 hari.
Hasil penelitian menunjukan bahwa perbedaan larutan fermentasi singkong, gula aren dan air kelapa sebagai atraktan perindukan nyamuk Aedes aegypti melalui media larvitrap memperoleh hasil yaitu air aquades (kontrol) 0 ekor (0%), larutan fermentasi singkong 11 ekor (8%), larutan fermentasi gula aren 18 ekor (12 %) dan larutan fermentasi air kelapa 30 ekor (20%). Total seluruh larva yang terperangkap pada larvitrap berisi larutan fermentasi yaitu 59 ekor larva nyamuk Aedes aegypti.
Disimpulkan dari empat perbedaan larutan fermentasi. Ada perbedaan jumlah larva nyamuk Aedes aegypti yang terperangkap pada atraktan larutan fermentasi singkong, gula aren, air kelapa. Jumlah larva nyamuk Aedes aegypti paling banyak yaitu pada larutan fermentasi air kelapa. Hal itu disebabkan bau yang menyengat mampu menarik indera penciuman nyamuk untuk meletakkan telurnya didalam lavitrap yang berisi fermentasi air kelapa. Disarankan sebagai alternative tambahan dalam metode pengendalian vektor demam berdarah dengue dan mengurangi penggunaan fogging yang efeknya dapat merusak kesehatan manusia dan lingkungan.
Tidak tersedia versi lain