Text
Analisis spasial kasus kerentanan larva nyamuk Aedes Aegypty Linn terhadap insektisida organo fosfat di Kecamatan Taman Kota Madiun
Latar belakang : Larvasida temefos telah lama digunakan di Kota Madiun dalam program pengendalian nyamuk Ae.Aegypti sebagai vektor DBD , namun kasus demam berdarah masih tinggi. Di Kota Madiun belum ada laporan mengenai status kerentanan larva Ae.aegypti temefos dan belum ada pemetaan tentang status kerentanan larva Ae.aegypti temefos.
Tujuan : Untuk mengetahui statuts kerentanan larva nyamuk Ae aegypti terhadap insektisida , menentukan perbedaan status kerentanan larva nyamuk A.aegypti terhadap insektisida organofosfat dengan tingkat endemisitas. Mendapatkan gambaran klaster persebaran larva rentan /resisten terhadap larvisida temefos dengan kepadatan populasi nyamuk dan mendapatkan gambaran klaster persebaran larva yang rentan /resisten terhadap larvisida temefos dengan angka insiden penyakit DBD di Kecamatan Taman Kota Madiun.
Metode : Status kerentanan ditegakkan dengan uji biokemis berdasarkan aktifitas enzim esterase non specific dan uji hayati (bioassay). Untuk mengetahui analisis spasial status kerentanan larva nyamuk Ae.aegypti terhadap temefos di Kecamatan Taman Kota Madiun menggunakan perangkat Arc GIS.
Hasil : Hasil status kerentanan larva nyamuk Ae.aegypti setelah diuji dengan chi x2 menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna (P<0,05) status kerentanan larva Ae.Aegypty yang berasal dari daerah endemis dan non endemis DBD dengan nilai P=3,2965 x 10-6. Larva nyamuk yang berasal dari daerah endemis memberikan kontribusi resisten sebesar 59% sedangkan yang berasal dari daerah non endemis memberikan kontribusi 9,83%. Untuk melihat diman terjadinya pengelompokan resistensi larva nyamuk Ae.aegypti menggunakan SatScan didaptkan bahwa terdapat dua cluster adalah Most Likely cluster ini berpusat pada koordinat 7.640083 S 111.527389 E, dengan radius 0,72 km. Cluster ini terdapat di Kelurahan Taman . Sedangkan secondary cluster berpusat pada koordinat 7.654639 S , 111.540667 E dengan radius 1,57 km. Pada cluster ini terdapat di Kelurahan Banjarejo.
Kesimpulan : terdapat dua cluster Most Likely dan Secondary cluster . Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara status kerentanan dengan kepadatan populasi nyamuk dan insiden penyakit DBD.
Kata Kunci : Ae.aegypti, temefos, bioassay, uji biokimiawi dan analisis spasial.
Tidak tersedia versi lain