Text
HUBUNGAN KETUBAN PECAH DINI DENGAN KEJADIAN PERSALINAN PREMATUR DI RSIA NYAI AGENG PINATIH GRESIK
ABSTRAK
Persalinan prematur adalah persalinan yang terjadi pada kehamilan kurang dari 37 minggu (antara 20-37 minggu) atau dengan berat janin kurang dari 2500 gram (Prawirohardjo, 2010). Persalinan prematur secara garis besar 50% terjadi spontan, 30% akibat ketuban pecah dini dan 20% sisanya dilahirkan atas indikasi ibu atau janin (Prawirohardjo, 2010). Tahun 2011 sebanyak 522 di mana yang mengalami ketuban pecah dini (KPD) sebanyak 84 (16,1%) yang mengalami persalinan prematur 18 (21,42%) dari 84 kasus KPD. Sedangkan jumlah seluruh ibu bersalin tahun 2012 sebanyak 697 di mana yang mengalami ketuban pecah dini (KPD) sebanyak 208 (29,84%) yang mengalami persalinan prematur 48 (23,07%) dari 208 kasus KPD. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Hubungan Ketuban Pecah Dini dengan Kejadian Persalinan Prematur di RSIA Nyai Ageng Pinatih Gresik.
Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik dengan metode penelitian cross sectional. Populasi dalam penelitian adalah seluruh ibu bersalin dengan jumlah 283 orang, dan sampel sebanyak 166 ibu bersalin. Pengambilan sampel secara random sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar pengumpul data dan hasil pengumpulan data dianalisis dengan uji chi square.
Dari hasil penelitian didapatkan pada ibu bersalin lebih dari setengah yang mengalami ketuban pecah dini yaitu 53,6% dan pada ibu bersalin sebagian besar tidak prematur sebanyak 62,6%. Analisis data chi square diperoleh x2 hitung lebih besar dari x2 tabel yang artinya ada hubungan ketuban pecah dini dengan kejadian persalinan prematur.
Oleh karena itu, bidan harus berperan aktif dalam upaya memberikan penyuluhan dan pemberian informasi dengan menggunakan bahasa dan media yang mudah diterima klien khususnya tentang ketuban pecah dini dengan kejadian persalinan prematur pada ibu bersalin.
Kata kunci : Ketuban Pecah Dini, Prematur
Tidak tersedia versi lain