Text
CASE REPORT PADA AKSEPTOR KB SUNTIK DMPA DENGAN SPOTTING DI PUSKESMAS KAMAL KABUPATEN BANGKALAN
Kontrasepsi suntik DMPA mengandung 150 mg hormon progesteron dan bekerja selama 12 minggu untuk mencegah ovulasi. Spotting terjadi akibat ketidakseimbangan hormon dalam tubuh dan umumnya muncul pada pengguna kontrasepsi suntik DMPA setelah 3–4 siklus penyuntikan. Hal ini menyebabkan pelebaran pembuluh darah kecil pada endometrium, sehingga pembuluh darah menjadi lebih rapuh dan mengakibatkan perdarahan bercak. Tujuan laporan kasus ini adalah untuk memberikan asuhan kebidanan pada seorang pengguna jangka panjang kontrasepsi suntik DMPA yang mengalami spotting, yang dilakukan di Puskesmas Kamal, Kabupaten Bangkalan. Asuhan dilakukan dengan pendekatan laporan kasus dari Januari hingga Juni 2025. Data dikumpulkan melalui wawancara, pemeriksaan fisik, dan observasi kartu K4, dengan persetujuan (informed consent) dari partisipan. Asuhan kebidanan diberikan kepada Ny. I, seorang pengguna jangka panjang kontrasepsi suntik DMPA yang mengalami spotting, melalui tiga kali kunjungan rumah. Pada kunjungan pertama, ditemukan spotting dan kemerahan pada vagina. Penatalaksanaan awal meliputi edukasi mengenai spotting akibat DMPA, kebersihan vulva, serta pemberian kontrasepsi oral kombinasi selama satu siklus. Pada kunjungan kedua, spotting telah berhenti, dan pasien dianjurkan untuk menyelesaikan siklus pil. Pada kunjungan ketiga, pasien melaporkan tidak mengalami spotting lagi dan tetap melanjutkan penggunaan DMPA tanpa komplikasi. Asuhan meliputi konseling, edukasi kebersihan vulva, serta pemberian kontrasepsi oral kombinasi selama satu siklus. Spotting berhenti pada hari ketiga terapi, menunjukkan bahwa intervensi efektif, dan pasien melanjutkan penggunaan DMPA tanpa keluhan lebih lanjut.
Tidak tersedia versi lain