Text
ASUHAN KEBIDANAN BERKELANJUTAN PADA IBU PRIMIGRAVIDA, PERSALINAN, BAYI BARU LAHIR, NIFAS, NEONATUS DAN PELAYANAN KONTRASEPSI DI BPM “S” WILAYAH KERJA PUSKESMAS BURNEH BANGKALAN
Primigravida merupakan kehamilan pertama kali pada seorang wanita dengan usia terbaik antara usia 20 tahun hingga 35 tahun. Pada proses kehamilan, persalinan dan nifas umumnya merupakan suatu kejadian fisiologis yang normal, tidak menutup kemungkinan akan mengalami berbagai masalah kesehatan dan kurangnya pengetahuan maka sering menimbulkan cemas, kekhawatiran dan gangguan tidur. Sehingga diperlukan tujuan umum pada Ny. S G1PAPIAH usia kehamilan 35-36 minggu untuk memberikan asuhan kebidanan secara Continuity of Care pada kehamilan TM III, persalinan, nifas, neonatus, dan pelayanan kontrasepsi, untuk mendeteksi secara dini adanya kelainan sehingga tidak terjadi komplikasi dari sejak masa kehamilan sampai dengan pelayanan kontrasepsi.
Metode asuhan kebidanan yang diberikan yaitu dengan memberikan asuhan kebidanan secara berkelanjutan (Continuity of care) serta penyajian data asuhan kebidanan menggunakan bentuk dokumentasi SOAP mulai dari kehamilan menggunakan pemeriksaan 10T, Persalinan dan BBL menggunakan pertolongan persalinan sesuai standart APN 60 langkah, Nifas menggunakan standart pelayan Kesehatan Ibu Nifas (KF), Neonatus menggunakan standart Pelayanan Kesehatan Neonatus (KN), dan pelayanan kontrasepsi menggunakan standart BKKBN.
Saat kunjungan pertama Ny. S G1PAPIAH usia kehamilan 35-36 minggu didapatkan hasil pengkajian bahwa ibu tergolong fisiologis, KSPR 2. Pada kunjungan pertama dan kedua tidak ditemukan keluhan apapun, ibu ingin mengetahui tanda tanda persalianan. Asuhan yang diberikan memberitahukan pada ibu tanda tanda persalinan, pemberian tablet FE dan kalk, serta sesering mungkin ibu membaca buku KIA supaya dapat mengantisipasi kondisi kehamilannya. Selama proses persalinan dari kala 1 sampai dengan kala IV berlangsung secara normal, pertolongan persalinan telah sesuai dengan standart APN 60 langkah dan pendokumantasian dicatat dalam lembar partograf. Bayi lahir spontan berjenis kelamin perempuan, berat badan 3400 gr dan panjang badan 48 cm. Pada kunjungan nifas pertama ibu mengalami bendungan ASI, namun hal tersebut dapat teratasi setelah diberikan KIE. Pada kunjungan kedua dan ketiga tidak ditemukan keluhan apapun. Pada kunjungan neonatus pertama sampai ketiga bayi tidak ada masalah, memastikan kebutuhan nutrisi bayi, bayi di beri ASI sesering mungkin atau setiap waktu saat bayi ingin menyusu. Pada asuhan kebidanan akseptor KB, diberikan konseling, informed consent, informed choise dan ibu memilih kontrasepsi suntikan 3 bulanan karena tidak akan mengganggu produksi ASI dengan status ibu sedang menyusui bayinya secara eksklusif.
Asuhan kebidanan yang telah diberikan secara Continuity of care mulai dari masa kehamilan sampai pelayanan kontrasepsi telah dilakukan sesuai dengan standart dan berjalan dengan normal, walaupun terdapat masalah pada kunjungan pertama nifas yaitu terjadi bendungan ASI, namun masalah tersebut dapat teratasi. Berdasarkan kesimpulan diatas, pasien sebaiknya tetap menerapkan anjuran yang diberikan bidan khususnya perawatan dirinya dan bayinya, sehingga asuhan kebidanan berkelanjutan dapat diberikan secara optimal dan menambah pemahaman ibu mengenai risiko dini yang bisa saja terjadim serta dapat mengambil pengalaman dan informasi yang sudah didapatkan untuk menjalani proses kehamilan berikutnya, sehingga dapat mandiri dalam merawat dan mengetahui status kesehatannya.
Tidak tersedia versi lain